Israel menyetujui rencana militer untuk menghadapi ancaman serangan balasan dari Iran dan Hizbullah. Israel berjanji untuk menyerang sasaran di jantung Iran. “Israel memberi tahu sekutunya bahwa mereka akan merespons setiap serangan Iran dengan menyerang sasaran di jantung Iran,” lapor Radio Tentara Israel, Rabu (14/8/2024).
“Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Herzi Halevy, menyetujui rencana militer untuk menghadapi serangan dari Iran dan Hizbullah," lanjutnya. Kepala IDF itu menegaskan militer Israel akan membalas setiap serangan terhadap wilayahnya. "Herzi Halevy memperingatkan bahwa setiap kerugian terhadap warga sipil di Israel akan menyebabkan respon yang belum pernah terjadi sebelumnya dan di luar kebiasaan,” tambahnya, seperti diberitakan El Nashra .
Israel telah menempatkan pasukan dan fasilitas vitalnya dalam siaga tinggi sekitar dua minggu lalu untuk mengantisipasi tanggapan Iran dan Hizbullah Lebanon. Sebelumnya, rezim Iran yang dipimpin Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan akan membalas pembunuhan Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh, di Teheran pada Rabu (31/7/2024) sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Israel Makin Terjepit Jelang Gempuran Iran Lebanon, Hamas Abaikan Perundingan karena Alasan Ini Serambinews.com
VIDEO Tel Aviv Israel Bak Kota Mati, Kini Sepi Bersiap Hadapi Serangan Balas Dendam Iran Serambinews.com Abu Paya Pasi akan Mundur dari Ketua MUNA, Penasehat PA, dan Tuha Peut Wali Nanggroe, Ini Alasannya Serambinews.com Sementara Hizbullah berjanji akan membalas pembunuhan Komandan Hizbullah, Fuad Shukr, dalam serangan udara di Beirut pada Selasa (30/7/2024) malam.
Menanggapi ancaman dari Iran, Amerika Serikat (AS) berupaya mencegah serangan terhadap sekutunya, Israel, dengan melakukan dialog dengan Iran dan negara negara yang dekat dengan Iran. Dalam beberapa minggu terakhir, Garda Revolusi Iran (IRGC) telah melakukan latihan militer dengan partisipasi unit rudal di bagian barat Iran. Iran telah mengonfirmasi tanggapan mereka terhadap Israel akan menentukan dan akan dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat.
Saat ini, Israel masih melancarkan agresinya di Jalur Gaza, jumlah kematian warga Palestina meningkat menjadi lebih dari 39.929 jiwa dan 92.240 lainnya terluka sejak Sabtu (7/10/2023) hingga Rabu (14/8/2024), dan 1.147 kematian di wilayah Israel, dikutip dari Pune News. Sebelumnya, Israel mulai membombardir Jalur Gaza setelah gerakan perlawanan Palestina, Hamas, meluncurkan Operasi Banjir Al Aqsa pada Sabtu (7/10/2023) untuk melawan pendudukan Israel dan kekerasan di Al Aqsa sejak tahun 1948. Israel memperkirakan kurang lebih ada 120 sandera yang hidup atau tewas dan masih ditahan Hamas di Jalur Gaza, setelah pertukaran 105 sandera dengan 240 tahanan Palestina pada akhir November 2023.