Bagi pengidap asma, termasuk anak-anak, memahami kondisi yang dialami merupakan langkah awal yang penting dalam pengelolaan penyakit ini. Terutama untuk orang tua yang juga ingin mengetahui tahapan dan cara mengobati asma pada anak. Ada beberapa hal yang perlu diketahui, mulai dari pemeriksaan medis yang perlu dilakukan untuk memastikan diagnosis asma, hingga cara pengobatannya yang tepat.
Selama proses diagnosis maupun perawatan asma, pengidap, termasuk anak-anak kemungkinan akan menjalani berbagai jenis pemeriksaan medis. Beberapa pemeriksaan mungkin sudah cukup sering dilakukan, seperti pemeriksaan fungsi paru atau observasi gejala, namun ada juga jenis pemeriksaan lain yang mungkin belum pernah dijalani sebelumnya. Pemeriksaan-pemeriksaan ini penting untuk memastikan seberapa parah kondisi asma, apa saja pemicunya, serta menentukan jenis pengobatan yang paling sesuai untuk masing-masing pasien.
Sebelum menetapkan diagnosis asma, dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan untuk menilai kondisi pernapasan pasien secara menyeluruh. Dalam beberapa kasus, pasien mungkin juga perlu dirujuk ke spesialis, seperti ahli alergi, ahli paru, atau dokter spesialis anak, guna memastikan apakah gejala yang muncul benar-benar disebabkan oleh asma atau kondisi lain yang serupa.
Berikut ini beberapa jenis pemeriksaan yang umumnya perlu dijalani oleh pengidap asma:
1. Peak Flow
Salah satu pemeriksaan paling sederhana yang dapat digunakan untuk memantau kondisi asma adalah peak flow test. Pemeriksaan ini menjadi bagian integral dari rencana perawatan asma karena membantu menilai seberapa baik saluran napas bekerja dalam mengeluarkan udara.
Peak flow dapat dilakukan dengan mudah di rumah menggunakan alat yang disebut peak flow meter. Alat ini mengukur seberapa cepat udara dapat dihembuskan keluar dari paru-paru dalam satu kali hembusan kuat. Hasil dari pemeriksaan ini bisa membantu mendeteksi lebih awal apabila kondisi asma mulai memburuk, bahkan sebelum gejalanya dirasakan oleh pengidap. Dengan begitu, pengobatan dapat segera diberikan untuk mencegah serangan asma yang lebih berat.
2. Spirometri
Berbeda dengan pemeriksaan peak flow yang bisa dilakukan secara mandiri di rumah, spirometri merupakan pemeriksaan yang sedikit lebih kompleks dan dilakukan oleh tenaga medis di fasilitas kesehatan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui seberapa cepat dan seberapa banyak udara yang dapat dikeluarkan dari paru-paru dalam satu hembusan.
Melalui spirometri, dokter dapat mengukur fungsi paru secara lebih akurat dan menilai tingkat keparahan asma yang dialami pasien. Hasil dari pemeriksaan ini juga membantu dalam memantau perkembangan kondisi asma dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, spirometri menjadi pemeriksaan yang penting, baik dalam proses diagnosis awal maupun dalam pengelolaan jangka panjang penyakit asma.
3. Pulmonary Test
Dalam beberapa kasus, dokter mungkin perlu melakukan pemeriksaan lanjutan untuk menilai volume paru-paru dan kapasitas difusi udara, terutama jika diagnosis asma belum dapat dipastikan secara jelas. Salah satu pemeriksaan yang digunakan adalah pulmonary function test (tes fungsi paru lanjutan).
Pada pemeriksaan ini, pasien biasanya diminta untuk duduk di dalam ruangan kecil atau kotak khusus yang kedap udara, disebut body plethysmography. Alat ini membantu dokter mengukur secara akurat berapa banyak udara yang dapat dihirup dan dihembuskan, serta seberapa efisien udara bergerak di dalam paru-paru. Pemeriksaan ini sangat berguna untuk membedakan asma dari kondisi paru-paru lainnya, seperti PPOK atau fibrosis paru.
4. Rontgen Dada
Rontgen dada juga termasuk dalam pemeriksaan penunjang yang sering dilakukan, terutama pada pasien yang mengalami mengi atau gejala pernapasan yang tidak jelas penyebabnya. Pemeriksaan ini membantu dokter memastikan bahwa gejala yang muncul bukan disebabkan oleh kondisi lain, seperti infeksi paru-paru, pneumonia, atau kelainan struktur paru.
Pada kasus asma, hasil rontgen dada umumnya tidak menunjukkan kelainan yang khas. Namun, dalam beberapa kasus, rontgen dapat menunjukkan tanda-tanda seperti udara yang terperangkap di paru-paru atau kondisi yang disebut hiperekspansi, yaitu ketika paru-paru tampak membesar karena kesulitan mengeluarkan udara sepenuhnya. Meskipun tidak digunakan untuk mendiagnosis asma secara langsung, rontgen dada penting untuk membantu menyingkirkan kemungkinan penyakit lain yang memiliki gejala serupa.
5. Bronchoprovocation Challenge Testing
Salah satu pemeriksaan lanjutan yang bisa dilakukan ketika diagnosis asma belum dapat dipastikan adalah tes provokasi saluran napas atau bronchial challenge test. Dalam pemeriksaan ini, pasien akan diminta menghirup zat tertentu, seperti metakolin atau histamin, melalui nebulizer. Zat-zat ini bekerja dengan cara memicu reaksi pada saluran napas untuk melihat apakah paru-paru menjadi hiperresponsif atau mudah teriritasi yang merupakan salah satu ciri khas asma.
Tes ini sangat berguna untuk mendeteksi asma yang sulit dikenali melalui pemeriksaan rutin. Salah satu keunggulan dari pemeriksaan ini adalah nilai prediksi negatifnya yang tinggi, artinya jika hasil tes menunjukkan negatif, maka kecil kemungkinan seseorang menderita asma. Oleh karena itu, bronchial challenge test sering digunakan ketika dokter mencurigai adanya asma, namun gejalanya belum cukup kuat atau hasil pemeriksaan lainnya belum memberikan kepastian.
6. Pulse Oksimetri
Pulse oksimetri merupakan metode pemeriksaan non-invasif yang digunakan untuk mengukur kadar oksigen dalam darah, atau lebih tepatnya, menilai seberapa baik paru-paru melakukan pertukaran oksigen dengan darah. Pemeriksaan ini sangat berguna, terutama saat anak mengalami gejala sesak napas atau saat serangan asma, karena membantu menentukan apakah tubuh mendapatkan cukup oksigen.
7. Arterial Blood Gas
Tujuan utama dari tes ini adalah untuk mengevaluasi seberapa baik darah teroksigenasi, sekaligus mengukur tingkat karbon dioksida dan pH darah. Hasil dari analisis ini memberikan gambaran akurat tentang pertukaran gas antara paru-paru dan aliran darah, serta membantu dokter menilai seberapa serius gangguan pernapasan yang dialami pasien.
Dibandingkan dengan pulse oksimetri, pemeriksaan ini dianggap lebih akurat dan andal, terutama dalam kondisi gawat darurat atau ketika saturasi oksigen pasien sulit dipantau secara optimal menggunakan alat non-invasif.